Saturday, April 2, 2011

10 Bek(pemain belakang) Terbaik di Dunia Sepanjang Masa

   Bek atau pemain belakang adalah posisi yang sangat vital dalam dunia sepak bola, merekalah benteng pertahanan yang harus menjaga daerah pertahanan agar para striker lawan tidak dapat membobol pertahanan mereka dan kemudian mencetak gol. Bagi banyak orang , Bek-bek terbaik berasal dari italia, hal ini mungkin karna gaya permainan sepakbola italia memang mengandalakan pertahanannya. tapi ternyata tidak semua bek-bek terbaik di dunia berada di Italia,
Berikut adalah daftar 10 bek terbaik di Dunia sepanjang masa yang didasarkan pada prestasi dan skill rata-rata pemain selama masa bermain :

  10. Daniel Passarella (Argentina)


      Inilah pemain serba bisa dari Argentina. Jago bertahan maupun menyerang, dan membantu terciptanya peluang bagi rekan setimnya, sekaligus menyapu bersih usaha lawan-lawannya. Ia juga dikenal efektif dalam eksekusi penalti dan tendangan bebas. Dengan 134 gol dalam 451 pertandingan, ia pernah mencetak rekor sebagai bek paling haus gol sepanjang masa. Meski demikian, rekor yang sama di Serie A Italia masih menjadi miliknya hingga saat ini. Ia sering dibandingkan dengan Beckenbauer.
Prestasinya yang paling menonjol adalah dua kali juara dunia bersama Argentina, yaitu pada 1978 dan 1986. Ia juga memenangkan Liga Utama Argentina selama empat kali bersama River Plate.






  9. Giacinto Facchetti (Italia)

    Meski karirnya berawal sebagai pemain depan, Facchetti kemudian beralih menjadi salah satu bek paling efektif dalam sejarah sepakbola Italia. Rentetan gelar yang dikoleksinya antara lain adalah Scudetto pada 1963, 1965, 1966, dan 1971; Coppa Italia 1978; Piala European Champions Club (sekarang Liga Champions) 1964 dan 1965; Piala Intercontinental 1964 dan 1965, serta pemenang Euro 1968. Hebatnya lagi, semua gelar klubnya diraih bersama satu klub, yaitu Inter Milan.
Tak heran jika Pele memasukkannya dalam daftar FIFA 100.








  8. Lothar Matthaus (Jerman)

     Matthaus baru bermain sebagai pemain belakang saat usianya sudah merambah 30-an. Sebelumnya ia lebih banyak berada di lini tengah. Toh dimanapun ia bermain, Maradona menyebutnya sebagai rival terberat. Dan kenapa tidak? Tak kurang dari tujuh gelar Bundesliga pernah menjadi miliknya, ditambah dengan tiga Piala Jerman, sebuah mahkota Serie A, dua Piala UEFA, satu Kejuaraan Eropa, serta Piala Dunia. Komunitas sepakbola Jerman menobatkannya menjadi pemain terbaik pada 1990 dan 1999, dan FIFA pun tak segan memberikan gelar pemain terbaik dunia 1991 padanya.
Sayang karirnya sebagai pelatih tidak secemerlang itu. Ia dipecat dari timnas Hongaria dan Red Bull Salzburg.






7. Fabio Cannavaro (Italia)

     Kapten Italia ini merupakan bek pertama yang dinobatkan menjadi Pemain Terbaik Dunia oleh FIFA setelah Italia menjuarai Piala Dunia pada 2006. Pada tahun yang sama, ia juga memenangi gelar Pemain Terbaik Eropa, dan dua kali terpilih dalam pasukan FIFPro World XI, yaitu pada 2005/06 dan 2006/07.
Sayang, walau pernah meraih gelar juara La Liga dua kali dengan Real Madrid, ia belum pernah menang di Serie A.





  6. Roberto Carlos (Brasil)

     Roberto Carlos tampil di tiga Piala Dunia bersama Brasil. Selain membawa timnya ke final 1998, ia juga menjadi pemain kunci pada saat Brasil menang empat tahun kemudian. Kontribusinya sebagai pengeksekusi tendangan bebas juga tidak bisa diremehkan, termasuk pada 3 Juni 1997, ketika ia mencetak gol dari jarak 35 m saat melawan Prancis.
Di Real Madrid, ia meraih empat gelar juara La Liga, tiga Liga Champions dan dua Piala Intercontinental. Ia juga merupakan salah satu dari enam pemain yang tampil lebih dari seratus kali di Liga Champions. Pele memasukkannya dalam daftar 125 pemain sepakbola terhebat sepanjang masa pada Maret 2004. Ia juga mendapat pengakuan sebagai legenda sepakbola internasional, dengan diberikannya Penghargaan Kaki Emas 2008.




  5. Lilian Thuram (Prancis)

      Bek Prancis paling sukses, dengan koleksi berbagai trofi dari empat klub di tiga negara, dan dua gelar internasional bersama timnas Prancis. Kemampuannya dalam membaca permainan dan menempatkan diri di lapangan membuatnya berbeda dari pemain bertahan kebanyakan.
Ia telah tampil dalam 142 pertandingan untuk Prancis, yang menjadikannya pemain yang paling sering diturunkan. Meski kurang mendapat pujian jika dibandingkan dengan bintang Prancis lainnya, seperti Zinedine Zidane dan Theirry Henry, perannya di timnas tidak kalah pentingnya. Ia membantu Prancis memenangkan Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000.







  4. Franco Baresi (Italia)

      Baresi menggawangi lini bertahan AC Milan dalam masa yang oleh banyak pengamat dinyatakan memiliki empat bek terbaik sepanjang sejarah, yaitu ia sendiri, Paolo Maldini, Alessandro Costacurta dan Mauro Tassotti. Ia juga menghabiskan seluruh karirnya di AC Milan dengan 532 pertandingan.
Ia mengoleksi enam Scudetto, tiga Piala Eropa dan Piala Dunia 1982, walau hanya sebagai cadangan. Paolo Maldini banyak berguru padanya, dan bahkan perkembangan karirnya kemudian mirip dengan Baresi. Ketika kemudian ia gantung sepatu, Milan memutuskan untuk menyimpan nomor punggung 6 yang selalu dikenakannya, sebuah penghargaan yang jarang dilakukan di Italia.






  3. Bobby Moore (Inggris)

      Pemain bertahan yang tenang, Moore banyak dipuji karena kemampuannya dalam membaca arah pertandingan dan mengantisipasi pergerakan lawan. Ia bukan bek yang hanya mengandalkan tekel keras. Pele menyebutnya sebagai pemain bertahan paling jujur yang pernah dilawannya.
Pada 29 Mei 1963, ia menerima ban kapten timnas Inggris ketika baru berusia 22 tahun, dan menjadi kapten tim senior Inggris termuda sepanjang masa. Prestasi terbesarnya adalah membawa Inggris menjuarai Piala Dunia 1966.






  2. Paolo Maldini (Italia)

      Ia tidak hanya hebat karena memiliki kesetiaan yang besar kepada klubnya, AC Milan. Lebih dari itu, ia adalah bek paling berprestasi. Bersama Milan, ia meraih tujuh Scudetto dan lima titel Liga Champions. Sebagai pemain yang paling banyak tampil untuk timnas Italia, Ia juga menjadi langganan tetap gelar pemain terbaik sepanjang karirnya. Tidak kurang dari Lilian Thuram pernah mengakui ingin sepertinya.
Satu-satunya kekurangannya adalah ia tidak pernah merasakan juara Piala Dunia.










 
1. Franz Beckenbauer (Jerman)


     Italia boleh saja menyumbangkan banyak nama dalam daftar ini. Tapi, tidak ada yang lebih patut berada di posisi puncak daripada “Sang Kaisar”. Buktinya, banyak pemain yang merasa bangga jika dibandingkan dengannya. Selain seabrek trofi yang dikoleksinya, kejeniusannyalah yang membuat ia menjadi sosok yang susah dilupakan. Sepak terjangnya di lapangan sangat elegan.
Lebih dari itu, ia adalah pemikir ulung yang membawa revolusi di dunia sepakbola dengan menciptakan peran libero menyerang. Sebelumnya, tak seorangpun pernah berpikir bahwa seorang sweeper juga perlu untuk maju untuk membantu penyerangan, apalagi mencetak gol. Beckenbauer menciptakan taktik ini, dan menjadikannya sebagai bagian dari sepakbola modern.

Tuesday, March 29, 2011

Fakta fakta unik dibalik perang salib (crusader)

1. Richard the Lion heart, yang terkenal sebagai Raja Inggris, dan konyolnya beliau tidak bisa bahasa inggris. Karena sejak kecil dia selalu berada di Prancis. Dia cuma numpang lahir di Inggris. Bahkan konon, beliau lebih mahir bahasa Arab daripada bahasa Inggris.

2. Raja Richard berada di Inggris dalam masa pemerintahannya hanya selama 11 bulan. Permaisurinya, Queen Berengaria of Navarre, malah tidak pernah ke Inggris sama sekali. Oleh karena itu Richard juga dikenal sebagai " The Absent King

3. Saking tidak percayanya dengan motivasi rekannya sesama ekspedisi perang salib, Raja Richard pernah mengatakan : "Saya lebih rela Yerusalem dipimpin oleh seorang Muslim yang bijak dan berjiwa ksatria daripada kota suci itu jatuh ketangan para baron Eropa yang hanya mengejar kekayaan pribadi "

4. Pada suatu peristiwa di pertempuran di Jaffa, ketika pasukan kavaleri Tentara Salib merasakan kelelahan, Richard sendiri memimpin pasukan tombak melawan kaum muslim. Saladin nyaris berada di sisinya dengan penuh kekaguman. Saat dia melihat kuda Richard terjatuh di bawahnya, seketika Sultan mengirimkan tukang kudanya ke medan pertempuran dengan dua ekor kuda yang masih segar untuk Raja Inggris yang berani itu.

5. Ada juga cerita mengenai Richard yang memasuki Yerusalem dengan menyamar dan makan malam bersama Saladin : mereka benar-benar saling bersikap ramah. Dalam rangkaian perbincangan, Richard bertanya kepada Sultan tentang bagaimana pandangannya mengenai Raja Inggris. Saladin menjawab bahwa Richard lebih mengunggulinya dalam sifat keberaniannya sebagai seorang ksatria, tapi kadang-kadang dia cenderung menyia-nyiakan sifatnya ini dengan terlalu gegabah dalam pertempuran. Sedangkan menurutnya Richard, Saladin terlalu moderat dalam memperkuat nilai-nilai keksatriaan, bahkan dalam pertempuran

6. Ketika ada salah satu panglima perang saladin memberontak, Richard membunuhnya dan menyerahkan kepalanya pada saladin serta berkata, "Aku tidak ingin orang ini mengacaukan "permainan" kecil kita". Dan keesokan harinya mereka bertempur sengit.

7. Pernah dalam suatu pertempuran, Richard melihat bahwa pedang saladin tumpul dan dia menghentikan perang hari itu untuk memberikan kesempatan agar saladin mengasahnya

8. Suatu hari, Richard sakit keras. Mendengar kabar itu, Shalahuddin mengirimkan dokter terbaiknya untuk mengobati Richard. Kapan lagi kita bisa mendapatkan pemimpin kaum muslim yang memiliki akhlak seperti Salahuddin?

9. Orang Eropa pada awalnya menyebut orang Muslim sebagai Barbarian, tetapi akibat kontak yang intensif dari perang salib, Lambat laun mereka menyadari bahwa yang barbar sesungguhnya adalah mereka. Jika ditilik dari tingginya peradaban budaya dan ilmu kaum muslimin saat itu.

10. Menurut catatan sejarah, pada saat perang salib, semua wanita dan pelacur di usir keluar dari kamp crusaders. Seluruh crusaders harus suci secara jasmaniah, bebas dari nafsu. Tapi ada satu grup wanita yg bebas keluar masuk camp crusaders yaitu tukang cuci baju. Bahkan kalau satu grup tukang cuci mau bepergian antar kota, mereka dijaga oleh sepasukan knight, dan dibuntuti pasukan infantri. Kalau iring-iringan ini diserang, keselamatan para tukang cuci ini no.1. Waktu ditawan pasukan muslim, para tukang cuci ini lebih dihormati daripada prajurit biasa. Sampai-sampai Richard The Lion Heart juga rela membayar ransum buat para tukang cuci itu

11. Ketika Frederick Barbarossa (kakek kaisar Frederik II) meninggal pada ekspedisi perang salib III, banyak ksatrianya yang menganggap bahwa ini adalah kehendak Tuhan dan banyak yang bergabung dengan kaum muslim. Lalu yang tersisa membawa jasad Barbarossa menuju ke yerusalem dengan anggapan nanti Barbarosa akan terlahir kembali.

12. Frederick II Kaisar Jerman, punya hubungan khusus dengan Sultan Malik dari Mesir di perang salib V. Beliau merasa di jaman itu (jaman dark ages), satu-satunya yang sebanding dengan dia di masalah budaya dan personality adalah pangeran-pangeran dari kerajaan muslim. Oleh karena itu gaya hidupnya agak nyentrik (dia berpoligami, padahal seorang Katolik tidak demikian).

13. Waktu terpaksa harus berpartisipasi dalam perang salib, Frederick II berhasil merebut Jerusalem, Betlehem dan Nazareth tanpa meneteskan setitik darahpun. Walaupun sebenernya dia cuma menyewa ke 3 kota tersebut dari sahabatnya si sultan Malik dari Mesir

14. Pernah ada kejadian Frederick II memukul pendeta yang masuk ke dalam masjid dan memperingatkan agar jangan melakukan hal itu lagi. Sedangkan al-Malik pernah dinasehati oleh Knight Templar agar membunuh Frederick II pada saat pengawalannya sedang longgar. Mengetahui hal tersebut, al-Malik segera menyuruh Frederick II agar segera pergi dari situ karena keadaannya 'berbahaya'.

15. Kekalahan pasukan Arab lebih sering karena mereka terpancing melakukan serangan terbuka melawan kavaleri berat Eropa. Dimana disiplin serta pengalaman tempur sukarelawan Jihad kalah jauh dari satuan tempur veteran Eropa khususnya ordo-ordo militer seperti Templar, Hospitallers dan Teutonic Knight.

16. Kekalahan pihak Eropa umumnya akibat dari insubordinasi alias kurang kuatnya komando tunggal dalam kesatuan tentara yang terdiri dari elemen-elemen berbeda dari para baron dan ordo militer yang sebenarnya saling tidak suka satu sama lainnya. Selain itu dalam beberapa kekalahan, para tentara bayaran ( mercenary ) dan sukarelawan Eropa seringkali terlalu cepat meninggalkan barisannya untuk menjarah kota-kota Islam yang hampir ditaklukannya. Hal itu membuat pasukan Islam yg sebenarnya sudah terpojok bisa melakukan counter-attack

17. Pasukan turki khwaraziman yang menyerang jerusalem tahun 1244 waktu itu dikontrol oleh keturunan genghis khan, Eljigidei. Yang lucu dari pasukan ini adalah pasukannya mayoritas beragama Buddha bahkan komandan Hulegu khan juga seorang Buddhis.

18. Sebenarnya pengiriman para Crusader salah alamat, kaum Turki Seljuk yang banyak mengganggu ziarah kaum kristiani ke Yerusalem sudah diusir oleh khalifah Mesir. Akan tetapi lamanya perjalanan serta miskinnya informasi membuat pemimpin Crusader tidak mendengar pergantian kekuasaan di Yerusalem.

19. Divisi elit pasukan berkuda Cossack di Rusia dan Musketer berkuda di Prancis karena terinspirasi suksesnya pasukan berkuda pemanah bangsa Arab. Pasukan berkuda bukan hanya sebagai pasukan sayab tapi menjadi pasukan khusus

20. Membangun sepasukan knights memakan biaya yang sangat besar. Seorang raja sekalipun di abad pertengahan paling hanya memiliki sekitar 100 - 300 Full Knight dengan Heavy Horse yang berdinas dibawah komandonya secara full - time. Biasanya para raja akan mengumpulkan seluruh Knight yang berada di bawah para duke dan baronnya apabila menghadapi pertempuran besar.

21. Para Knights umumnya adalah anak para ningrat yang tidak memiliki hak waris. Di masa itu seperti juga para bangsawan dimana saja, kekayaan dan kekuasaan sang ayah hanya diwarisi oleh putra sulungnya, kecuali tingkat raja atau baron kaya dimana putra ke dua hingga ke 3 masih mungkin mewarisi satu county atau estate dengan kastil kecil. Putra-putra yang tidak atau merasa kurang memiliki kekayaan biasanya sejak remaja mengasah diri dengan ketrampilan perang. Mereka kemudian pada usia tertentu (15-16 tahun ) di inagurasi menjadi knight oleh raja atau baron tempat dia mengabdi.

22. Ada sebuah aturan yang tidak pernah dilanggar oleh kedua belah pihak sewaktu perang salib. Yaitu Fakta Nobility atau Hukum Chivalry yang berlaku di abad pertengahan bahwa raja tidak boleh membunuh sesama raja. Khususnya apabila tertawan. Salah satu kode etik knights dan para noble adalah mereka pantang membunuh keluarga atau orang2 dari keturunan ningrat yang menyerah/tertawan dalam pertempuran. Akan tetapi khusus buat religius-military Order spt Templar, Hospitaller dan Teutonic dalam perang Salib, peraturan itu tidak berlaku terhadap para noble/ningrat Muslim. Kecuali dalam kondisi khusus atau mendapat spesial order dari pemimpin Crusader yang mendapat mandat langsung dari Paus. Dalam tradisi Arab sendiri, seorang raja pantang membunuh sesama raja. Hal itu yang diterapkan Saladin ketika dia tidak membunuh Guy of Lusignan, raja kerajaan Latin di Yerusalem ketika berhasil memenangkan pertempuran Hattin

23. Saladin pernah melanggar etika dan hukum perang Islam yg selalu dia junjung tinggi ketika dia mengeksekusi semua tawanan Ksatria Templar dan Hospitaller ketika dia memenangkan pertempuran Hattin. Sementara Richard The Lion Heart juga pernah melanggar kode etik Chivalry serta etika Noble-nya saat dia mengeksekusi 2000 serdadu Saladin yang tertawan di depan gerbang Acre/Akko

24. Kalau selama ini kita mendengar bahwa Saladin itu komandan yg santun, maka salah satu panglima mamluk yaitu Baybar adalah komandan yang garang. Tidak kalah garangnya dalam soal bunuh-membunuh seperti crusaders. Kalau crusaders dibawah pimpinan Richard pernah menghukum mati seluruh tawanan muslim di Aacre, pasukan Baybar juga membunuh semua orang kristen di Acre, termasuk pendeta dan perempuan. bahkan dia berkirim surat ke komandan crusaders untuk menceritakan detil pembantaian di dalam suratnya. Baybar bahkan sampai membuat lingkungan acre jadi gurun agar di masa depan sulit untuk jadi pangkalan crusaders lagi.

25. Saat pengepungan kota Acre, Baybars menggunakan siege weaponnya selain sebagai senjata penghancur berat jarak jauh, juga sebagai senjata psikologi dan biologi. Senjata katapel-nya tidak hanya melontarkan batu ke arah kota, tapi juga mayat pasukan musuh, tawanan anak-anak yang masih hidup serta bangkai binatang spt kuda, unta dll. Di abad pertengahan hal itu kerap disebut sbg 'humor pasukan artileri'. Namun Baybars melakukannya lebih intensif dan mengerikan.

26. Akibat dihinggapi penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati). Maka.Shalahuddin lantas menggagas sebuah festival yang diberi nama peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tujuannya untuk menumbuhkan dan membangkitkan spirit perjuangan. Di festival ini dikaji habis-habisan sirah nabawiyah (sejarah nabi) dan atsar (perkataan) sahabat, terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai jihad. Festival ini berlangsung dua bulan berturut-turut. Hasilnya luar biasa. Banyak pemuda Muslim yang mendaftar untuk berjihad membebaskan Palestina. Mereka pun siap mengikuti pendidikan kemiliteran.

Perang Salib yang utama

Terdapat pelbagai Perang Salib di mana yang besar sebanyak sembilan kali. Perang Salib yang penting dan terbesar berlaku pada abad ke-11 hingga ke-13. Perang Salib bukan sahaja berlaku di tanah orang Islam tetapi juga di Iberia dan Eropah tengah.

Selain itu terdapat beberapa perang Salib kecil-kecilan terhadap fahaman yang dianggap sesat oleh pihak berkuasa Kristian dan musuh-musuh peribadi Paus atau raja-raja berkuasa yang lain. Perang Salib seperti ini telah berterusan ke abad ke-16 hingga Zaman Pembaharuan dan Reformasi apabila iklim politik dan keagamaan Eropah berubah. Berikut ialah satu senarai Perang Salib yang utama.
Perang Salib Pertama (1095-1099)

Perang Salib Pertama terjadi apabila Maharaja Bizantium, Alexius I, meminta tolong dari Paus untuk melindungi empayarnya daripada Turki Seljuk. Pada tahun 1095, semasa Majlis Clermont, Paus Urbanus II menginginkan Baitulmuqaddis jatuh ke genggaman tentera Frank. Alasannya adalah sejak kejatuhan Constantinople ke tangan bangsa Seljuk, bangsa Eropah menghadapi kesulitan menziarah Jerusalem kerana dihalang oleh bangsa Seljuk.

Pihak Vatican mengirim surat kepada raja-raja Eropah meminta bantuan beserta sukarelawan dari rakyat mereka. Vatican juga mula mengumpul sukarelawan perang dan menjanjikan syurga dan penghapusan dosa. Pihak Vatikan juga mengatakan membunuh umat Islam adalah halal dan mereka yang berbuat demikian dijamin masuk syurga.

Para pembesar Eropah mengirimkan mereka sekitar 40,000 orang di bawah pimpinan Raymond dari Toulouse, Behomend dari Sicily, dan Godfrey dari Boullin. Pemimpin perang ini diberi jaminam akan menjadi para pembesar di Kerajaan Suci Jerusalem. Tentera Salib berkumpul di Konstantinopel untuk membantu Rom Timur pimpinan Alexius Comnenus melawan bangsa Seljuk. Maka bermulalah perjalanan yang panjang.

Pada 4 Jun 1097, tentara salib menakluki ibu kota Seljuk menyebabkan tentera diterajui Sultan Qilij Arslan mengalami kekalahan besar-besaran dalam pertempuran Dorylaeum di dataran tinggi Anatolia. Tentera salib meneruskan perjalanan ke Antioch. Kota ini dikepung cukup lama dari Oktober 1097 hingga Jun 1098. Gabenor Antioch, Yaghisian, mengusir kaum Kristian yang terkenal dengan sebutan kaum Ortodoks Timur yang tinggal di dalam kota sejak bertahun-tahun yang lalu. Yaghisian juga memohon pertolongan daripada Syria untuk mengusir tentara salib.

Syria mengirim bantuan dan mereka mengepung tentera salib supaya tidak mendapat bekalan makanan dari luar. Strategi ini berjaya sehingga satria berkuda tentera salib terpaksa memakan kuda mereka dan para tentera pejalan kaki memakan dedaunan untuk terus hidup. Walaupun tentera Islam berjaya memutuskan hubungan dunia luar, tentera Salib masih mampu merebut Antioch. Kekalahan tentera Islam adalah berpunca rasa ketidakpercayaan antara sesama pasukan. Tentera bantuan dari Syria enggan mematuhi perintah gabenor Antioch, Yaghisian, kerana mereka beranggapan panglima dari Syria lebih tinggi daripada gabenor sebuah jajahan dari Syria. Kekalahan mereka juga disebabkan terdapat pengkhianat yang membocorkan rahsia pasukan Islam kepada para pimpinan tentera salib yang menjanjikan hadiah yang besar.

Setelah menguasai Antioch sepenuhnya, tentara salib bergerak menuju ke Ma’araat al-Nu’man dan menakluknya pada 2 Disember 1098. Ma’araat al-Nu’man bukanlah sebuah kota besar seperi Baitulmuqaddis ataupun Damsyik. Kekejaman tentara salib tidak akan terhapus dari memori umat Islam. Didorong oleh kepercayaan bahawa membunuh umat Islam dijamin syurga, tentera salib membunuh ramai umat Islam.

Setelah menambah kekuatan mereka, tentera salib bergerak ke matlamat utama mereka iaitu kota Baitulmuqaddis. Dengan bantuan pasukan tambahan dari Eropah, tentara salib menguasai daerah pesisir pantai Syria dan meluaskan pengaruh mereka di Mediteranian Timur. Pergerakan mereka tidak disekat sehingga Baitulmuqaddis jatuh ke tangan kaum Frank tanpa perlawanan pada hari Jumaat, 5 Julai 1099. Salah seorang pimpinan mereka, Godfrey the Bouillon, diangkat sebagai penguasa Baitulmuqaddis. Perpecahan umat Islam yang terjadi pada masa itu adalah penyebab utama kejatuhan Baitulmuqaddis. Jatuhnya ibu kota ini ke tangan kaum Frank menandakan berakhirnya Perang Salib Pertama.
Perang Salib Kedua (1145-1149)

Setelah kejatuhan Jeruselam ke tangan kaum Frank, mereka melakukan serangan ke daerah sekitar untuk memperluas kekuasaan mereka. Karena faktor geografi, daerah-daerah pantai Syria yang terbentang menghadap ke barat, berhasil dikuasai tentera salib. Tentera salib juga menakluk Tripoli. Jatuhnya Tripli ke tangan tentera salib menandakan berakhirnya perluasan kaum Frank untuk memperluas Negara Salib. Serangan tentera salib selanjutnya ke atas Aleppo dan Damsyik banyak menemui kegagalan kerana mendapat tentangan keras dari pasukan setempat. Di dua kota inilah semangat jihad umat Islam yang hilang di tahun-tahun sebelumnya akibat perpecahan agama, bangkit kembali.

Para ulama memainkan peranan yang sangat penting disebalik kebangkitan semangat jihad umat Islam. Al-Sulami, seorang ulama sufi dari Masjid Umayyah, Damsyik, adalah ulama yang melopori dakwah bertemakan jihad dari mimbar masjid. Menurut al-Sulami, kekalahan yang diderita umat Islam dari perang melawan tentera salib disebabkan hukuman dari Allah SWT karena umat Islam mengabaikan kewajiban-kewajiban agama, khususnya jihad di jalan Allah. Al-Sulami berpendapat jika umat Islam menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagaimana yang telah ditentukan oleh Allah SWT, maka umat Islam akan mencintai agamanya dan akan berjuang sekuat tenaga demi agama. Langkah al-Sulami ini diikuti oleh ramai ulama di Suriah yang banyak melahirkan kelompok mujahidin.

Zengi, penguasa Turki dari Mosul, merupakan pemimpin yang pertama dalam sejarah, setelah ekspansi tentera salib semasa Perang Salib Pertama, yang memimpin para mujahidin Islam. Dengan bantuan seorang ulama, Ibn al-Khasysyab, meraka membawa umat Islam ke arah kemenangan menentang tentera salib dalam Pertempuran Ladang Darah di Balath. Kemenangan ini membawa impak yang besar kepada psikologi umat Islam dan menghapus tanggapan mereka tentang kekuatan tentera salib.

Kemenangan Zengi pada tahun 1144 mengukuhkan rasa percaya diri mereka. Kemampuan pasukan Zengi merebut Edessa sangat berharga kerana Edessa merupakan kota Negara Salib pertama yang berhasil direbut oleh umat Islam. Walaupun dua tahun kemudian Zengi tewas akibat dibunuh, Zengi tetap seorang pahlawan bagi umat Islam yang membakar semangat jihad mereka. Semangat jihad diteruskan oleh Nuruddin, tokoh utama Islam semasa Perang Salib Kedua yang juga putera kepada Zengi.
Kejatuhan Jerusalem (1187)

Nuruddin memimpin Edessa dan Aleppo, daerah kekuasaan yang diwarisi dari ayahnya, dan memperluas daerahnya dengan mengalahkan tentera salib di Inap di bulan Julai 1149. Tahun 1154, Nuruddin telah berhasil menyatukan Syria. Tahun 1163, Amalric naik tahta menjadi pemimpin tentera salib yang baru. Semasa inilah cabaran Nuruddin bermula.

Amalric melihat peluang besar untuk menguasai Mesir dari penguasaan Fatimiyyah yang lemah akibat kematian menteri mereka. Nuruddin, selain memerangi kaum Frank, juga melakukan campur tangan masalah dalaman mereka. Usaha Nuruddin berhasil karena Syawar, menteri Fatimiyyah, memohon pertolongan Nuruddin untuk menggulingkan musuh politiknya, Dirgham, yang menggulingkannya melalui bantuan kaum Frank. Nuruddin mengirim pasukannya di bawah Syirkuh yang merupakan paman kepada Salahuddin Al-Ayubbi untuk mengembalikan kekuasaan Syawar di Kaherah. Pertempuran di Kaherah akhirnya dimenangi dan Syawar menjadi menteri Fatimiyah.

Operasi ketenteraan kedua dibiayai terus oleh Nuruddin dan memperoleh kemenangan kecil pada tahun 1168. Kaum Frank kembali ingin menguasai Kaherah pada tahun yang sama. Ini memaksa Syawar kembali meminta bantuan Nuruddin. Nuruddin kembali memberi kepercayaan kepada Syirkuh untuk memimpin pasukan Islam melawan kaum Frank. Dalam pertempuran ketiga ini, Syirkuh tewas pada tahun 1169 dan digantikan oleh Salahudin. Pasukan Islam memperoleh kemenangan atas kaum Frank.

Salahudin mengusir kaum Frank dari tanah Mesir menjadikan khalifah Fatimiyah menaruh Salahudin untuk memerintah Kaherah. Karier Salahudin semakin naik dengan terpilihnya ia sebagai menteri di bawah khalifah al-Adid. Apabila khalifah al-Adid wafat, Salahudin mengambil langkah penting, iaitu menghancurkan Dinasti Fatimiyah dan mengembalikan Mesir di bawah kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad. Operasi ketenteraan Salahudin ini masih di atas nama Nuruddin. Ketaatan Salahudin kepada Nuruddin berakhir pada tahun 1172 karena Salahudin menganggap Nuruddin tidak memimpin umat Islam. Perseteruan bagaimanapun tidak terjadi karena Nuruddin wafat pada tahun 1174. Kematian Nuruddin ini mengelakkan perseteruan anatara Islam. Jika Nuruddin masih hidup, Islam mungkin terpecah menjadi dua, antara pendukung Nuruddin dan Salahudin.

Salahudin mengisytiharkan dirinya sebagai pengganti Nuruddin, walaupun ditentang oleh keluarga Nuruddin. Salahudin menunjukkan kredibilitinya dengan memerangi kelompok-kelompok Islam penentangnya. Dengan jatuhnya Aleppo tahun 1183, Salahudin telah menyatukan Mesir dan Syria dibawah satu komando. Salahudin pun mengalihkan perhatiannya ke musuh utama umat Islam sebenarnya, yaitu tentera salib.

Salahudin dan Raja Baldwin IV, penguasa Jerusalem mengadakan perjanjian damai. Semasa damai ini, kehidupan di Mediterania Timur kembali berjalan normal. Perjanjian antara kedua raja ini retak akibat hasutan Reynald the Chatillon, salah seorang pembesar kaum Frank yang sangat membenci Islam. Tindakan Reyald the Chatillon membuat umat Islam marah. Bahkan di mata umat Islam, Reynald the Chatillon dianggap pembesar kaum Frank terburuk. Tindakan Reynald yang mengundang kemarahan umat Islam adalah seperti keinginan Reynald menghancurkan kota-kota suci umat Islam, Mekkah dan Madinah serta tindakannya menyerang kafilah-kafilah Islam sewaktu perjanjian damai.

Salahudin mengirim pasukan Islam untuk menyerang kaum Frank ke Kerak, tempat Reynald tinggal. Balwin juga mengirim pasukannya ke Kerak setelah mendengar Salahudin hendak menyerang salah satu wilayahnya. Peperangan ini berhenti dengan perjanjian damai dan jaminan Reynald akan dihukum sendiri oleh tangan kaum Frank.

Setahun kemudian, Salahudin sakit dalam waktu yang sangat lama. Setahun kemudian, Baldwin IV meninggal dunia dan digantikan oleh Guy the Lusigna. Dengan Guy, yang merupakan teman rapat Reynald the Chatillon, maka perjanjian antara Islam dengan kaum Frank telah berakhir.

Salahudin, yang telah sembuh, segera menngumpulkan pasukan-pasukan umat Islam untuk berperang melawan tentera salib. Guy juga segera mengumpulkan pasukan untuk menyerang Islam. Berlakulah Perang Hittin, salah satu perang besar dalam sejarah dunia, yang dimenangi pasukan Islam. Guy
Perang Salib Ketiga (1187–1192)

Pada tahun 1187, Salahuddin menawan semula Jerusalem. Paus Gregory VIII membuat seruan Perang Salib yang diketuai beberapa pemimpin utama Eropah: Philip II dari Perancis, Richard I dari England dan Frederick I, dan Maharaja Suci Rom. Frederick meningal dunia kerana lemas di Cilicia pada tahun 1190, dan meninggalkan persekutuan yang tidak stabil antara kuasa England dan Perancis. Philip pula pulang pada tahun 1191 setelah tentera salib merampas Acre dari tangan orang Islam. Pasukan tentera salib menuju ke pantai Laut Mediterranean. Mereka menewaskan orang Islam berdekatan Arsuf dan dapat melihat Jerusalem. Bagaimanapun, tentera salib tidak kekal bertapak di kawasan tempatan disebabkan bekalan makanan dan air yang kurang, ini mengakibatkan kejayaan kosong. Richard pulang pada tahun berikutnya setelah menandatangani genjatan senjata dengan Salahuddin. Dalam perjalanan pulang, kapal Richard pecah dan mendarat di Austria. Di Austria, musuhnya, Duke Leopold menangkap dan memberinya kepada anak Frederick, Henry VI. Richard ditahan untuk mendapatkan wang tebusan raja. Pada tahun 1197, Henry sendiri berasa bahawa dia bersedia untuk Perang Salib, tetapi dia mati pada tahun yang sama akibat demam malaria.
Perang Salib Keempat (1202–1204)

Jerusalem kembali ke tangan orang Islam sedekad yang lalu. Perang Salib Keempat dilancarkan oleh Paus Innocent III pada tahun 1202 dengan niat mahu menakluki Tanah Suci menerusi Mesir. Orang Venice yang diketuai Doge Enrico Dandolo, diberi kepercayaan untuk mengemudi perang Salib ini dan menghalakannya, pertama ke sebuah bandar Kristian Zara, kemudian ke Constantinople. Di situ mereka cuba meletakkan seorang buangan Byzantine di atas takhta. Berikutan satu siri salah faham dan ledakan keganasan, bandar tersebut dijajah pada tahun 1204.

dan Reynald ditawan dan dihadapkan ke hadapan Salahudin. Reynald dibunuh oleh Salahudin dan Guy diseret Salahudin ke Jerusalem. Pasukan Islam memenangi pertempuran di Arce lima hari selepasnya. Wilayah dari Gaza hingga Jubayl dikuasai Salahudin pada awal September. Pada hari Jumaat, 2 Oktober 1187, Salahudin berjaya menawan Jerusalem. Jatuhnya Jerusalem ke tangan umat Islam adalah puncak kejayaan Salahudin dalam memimpin umat Islam semasa Perang Salib. Merebut Jerusalem dari tangan kaum Frank adalah cita-cita terbesar Salahudin dan Perang Salib Kedua berakhir dengan kemenangan umat Islam.

Perang Salib Kelima (1217–1221)

Dengan memperalatkan perarakan, doa dan syarahan, pihak Gereja cuba membentuk satu lagi Perang Salib. Persidangan Lateran Keempat (1215) telah merumuskan sebuah rancangan untuk merampas kembali Tanah Suci. Pasukan tentera salib dari Hungary, Austria, dan Bavaria mencapai kejayaan luar biasa dengan penaklukan Damietta di Mesir pada tahun 1219. Tetapi atas desakan segera dari duta Paus, Pelagius, mereka meneruskan serangan berani ke atas Kaherah, tetapi banjir Sungai Nil memaksa mereka memilih samada menyerah kalah atau kemusnahan.
Perang Salib Keenam (1228–1229)

Pada tahun 1228, Maharaja Frederick II belayar dari Brindisi menuju ke Syria walaupun menerima penyingkiran oleh Paus (papal excommunication). Melalui saluran diplomasi dia mencapai kejayaan yang tidak dijangkakan apabila Baitulmaqdis, Nazareth dan Baitul Laham akan diserahkan kepada tentera salib untuk tempoh selama 10 tahun.
Perang Salib Ketujuh (1248–1254)

Minat pihak Paus yang ditunjukkan oleh Kesatria Templar mengundang konflik dengan Mesir pada tahun 1243, dalam tahun berikutnya sebuah pasukan tentera Khwarezmi yang dipanggil oleh Mesir menyerbu ke Baitul Maqdis. Walaupun ini tidak menimbulkan sebarang kekejutan meluas di Eropah sebagaimana berlakunya kejatuhan Baitul Maqdis pada tahun 1187, Louis IX mengatur Perang Salib menentang Mesir dari tahun 1248 hingga 1254, dia bertolak dari pelabuhan Aigues-Mortes yang baru dibina di selatan Perancis. Ia adalah satu kegagalan dan Louis menghabiskan hidupnya di istana kerajaan tentera salib di Acre. Di tengah-tengah perang Salib ini, berlaku Perang Salib Pengembala Biri-Biri pertama pada tahun 1251.
Perang Salib Kelapan 1270

Perang Salib Kelapan dicetuskan oleh Louis IX pada tahun 1270, sekali lagi belayar dari Aigues-Mortes, bertujuan pada mulanya untuk menolong saki-baki negeri-negeri tentera Salib di Syria. Bagaimana pun, perang Salib ini dihalakan ke Tunis. Di situ Louis menghabiskan sisa hayatnya selama hanya dua bulan sebelum meninggal dunia. Perang Salib Kelapan kadang-kala dikira sebagai Perang Salib Ketujuh, jika Perang Salib Kelima dan Keenam dikira sebagai satu Perang Salib tunggal. Perang Salib Kesembilan juga kadang-kala dikira sebagai sebahagian daripada Perang Salib Kelapan.

Perang Salib Kesembilan (1271–1272)

Raja Edward I dari England menjalankan satu lagi ekspedisi pada tahun 1271, setelah menemani Louis dalam Perang Salib Kelapan. Dia hanya mencapai sedikit kejayaan di Syria dan menarik diri berikutan satu gencatan senjata pada tahun berikutnya. Dengan kejatuhan Antioch (1268), Tripoli (1289) dan Acre (1291), kesan-kesan terakhir pemerintahan Kristian di Syria lenyap.